Kalau nama Raja
Ampat disebut, yang muncul di kepala kebanyakan orang pasti laut. Air sebening
kaca, terumbu karang warna-warni, ikan berkelompok seperti awan yang bergerak,
atau kalau beruntung, pari manta melintas pelan di bawah perahu. Saya sendiri
begitu, setiap kali dengar nama itu, bayangan yang muncul selalu bawah laut,
bukan daratannya, apalagi hutan bakaunya.
Tapi ternyata, ada cerita lain yang jarang sampai ke brosur wisata. Cerita itu bukan datang dari kedalaman laut, melainkan dari balik pagar hijau rapat yang selama ini cuma dianggap pembatas antara darat dan laut: mangrove. Di sebuah kampung kecil bernama Friwen, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, hutan bakau justru jadi tempat lahirnya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar pemandangan indah, yaitu ketahanan pangan.





