Beberapa waktu ini saya merasakan satu hal yang cukup pilu, ada banyak teman yang merasakan sakit padahal usianya masih muda banget. Ada yang cuci darah, ada yang punya riwayat darah tinggi hingga asam urat yang menjadi-jadi. Rasanya sakit yang dulu identik dengan orang usia kepala lima, kini malah menyerah kepala tiga awal bahkan pertengahan kepala dua.
Tuesday, October 6, 2026
Friday, September 25, 2026
Dari Rimba Bakau, Mama-Mama Friwen Menjahit Ketahanan Pangan Raja Ampat
Kalau nama Raja
Ampat disebut, yang muncul di kepala kebanyakan orang pasti laut. Air sebening
kaca, terumbu karang warna-warni, ikan berkelompok seperti awan yang bergerak,
atau kalau beruntung, pari manta melintas pelan di bawah perahu. Saya sendiri
begitu, setiap kali dengar nama itu, bayangan yang muncul selalu bawah laut,
bukan daratannya, apalagi hutan bakaunya.
Tapi ternyata, ada cerita lain yang jarang sampai ke brosur wisata. Cerita itu bukan datang dari kedalaman laut, melainkan dari balik pagar hijau rapat yang selama ini cuma dianggap pembatas antara darat dan laut: mangrove. Di sebuah kampung kecil bernama Friwen, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, hutan bakau justru jadi tempat lahirnya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar pemandangan indah, yaitu ketahanan pangan.
Wednesday, September 16, 2026
Kipas Angin Bikin Rumah Nyaman Meskipun Tanpa AC
Sunday, August 23, 2026
Jelajah Gunung dan Laut, Insto untuk Mata Nyaman
Dalam setahun terakhir saya punya hobi baru yang selama ini terpendam yakni menjelajahi alam. Memang itu cita-cita, dulu di masa kuliah memang sering dan sudah jadi rutinitas. Tetapi semenjak hampir sepuluh tahun bekerja rasanya menjelajah alam terasa begitu eksotik. Jadi kami punya target dalam dua kali sebulan bisa pergi ke sejumlah tempat hidden gem yang selama ini tidak terjamah. Lokasinya tak perlu jauh tetapi memberikan nuansa dan cerita baru di dalamnya.
Namun, ada satu masalah: semakin ke sini, banyak teman yang sudah tidak bisa ikut lagi. Rata-rata mereka sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Hari libur lebih sering dipakai untuk berkumpul bersama keluarga atau sekadar istirahat total di rumah. Bagi mereka, rasanya tidak masuk akal harus capek-capek mencari lokasi hidden gem, menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan, sementara besoknya sudah harus kembali bekerja. Waktu istirahat itu sekarang mahal, begitu kira-kira alasan beberapa teman yang akhirnya berhasil kami ajak ikut.
Saturday, August 15, 2026
Merdeka di Atas Tanah yang Kehilangan Akarnya
Saya besar dengan cerita bahwa
Aceh adalah tanah yang tidak pernah benar-benar takluk. Ada narasi panjang
tentang perlawanan, tentang otonomi yang diperjuangkan lewat darah dan
negosiasi bertahun-tahun sampai lahir status Otonomi Khusus. Saya percaya cerita
itu. Sampai awal tahun ini, saya berdiri di depan rumah yang setengah
tenggelam, menyaksikan gelondongan kayu hanyut bersama lumpur ke halaman
tetangga. Bukan pohon tumbang alami. Ada bekas potongan gergaji mesin di
batangnya.
Di titik itu saya sadar ada lubang dalam kemerdekaan yang saya rayakan setiap 17 Agustus. Kita merdeka dari penjajah. Namun cara kita memperlakukan tanah yang menghidupi kita sendiri, seakan kita ikut menjajah hutan itu sendiri, mengubahnya jadi lahan produksi tanpa sisa, tanpa pernah bertanya apa yang akan terjadi kalau ia tidak lagi sanggup menahan air.





